Penanya :

Assalamualaikum
Kang hendak bertanya..

Logic apa yg bisa saya gunakan saat menghadpi. Atasan selalu benar. Heheheh bahkan saat menyimpang dr etika, dan peraturan ..

Bagaimana menyikapi hal tersebut.

Penjawab :

Waalaikum salam.

Kalau atasan selalu benar, itu berarti bagus, dia maksum. he..he..

Kalau maksudnya “atasan selalu merasa benar”, itu sih bukan hanya atasan, tapi bawahan juga selalu merasa benar. Intinya, masing-masing orang melihat orang lain dengan cara yang sama. Ketika terjadi konflik kepentingan, pertentangan pendapat, masing-masing merasa benar, dan pihak lain diyakini salah. Ketika orang lain bersikukuh dengan keyakinannya, kita melihat dia dengan sifat-sifat negatif, seperti keras kepala, egois, merasa paling benar, maunya menang sendiri, anti kritik, dll. Kita jarang menyadari bahwa dari sudut pandang dia, kita pun dipandang seperti itu. Memang ini tidak terjadi pada semua orang, tapi hal ini saya katakan “pada umumnya” demikian.

Dalam dunia debat sering saya saksikan, di mana seseorang benar-benar menganggap lawan bicaranya sangat bodoh. Sedangkan lawan bicaranya, menilai dia seperti itu pula. Hal itu seperti bisa saya katakan sebagai hal lumrah. Pada prinsipnya, kita tidak selalu dapat mengubah bagaimana cara pandang orang lain terhadap kita, tapi kita dapat mengubah cara pandang diri kita sendiri tentang orang yang terlihat selalu merasa benar sendiri, egois, keras kepala dan antri kritik. Berikut saya bagikan tujuh prinsip dalam pergaulan sehari-hari, yang selalu saya terapkan sejak dulu di lingkuman manapun, temasuk di lingkungan kerja, dalam menghadapi atasan, bawahan, atau teman sejawat.

Pertama-tama, bila kita melihat ada orang yang egois, maunya menang sendiri, keras kepala, dan sifat-sifat negatif lainnya, Janganlah kita membenci orangnya. tapi bencilah perilakunya, agar kita tidak meniru perilaku buruk tersebut. Kita harus melihatnya sebagai cermin, bahwa memeriksa diri, “jangan-jangan kelakuan kita seperti orang itu.” Bersyukurlah jika kita tidak merasa demikian.

Kedua.bersantailah.. biarkan, izinkan dan ikhlaskan orang lain bersikukuh dengan pendapat nya sendiri. Kita tidak pernah harus mengubah tabiat orang lain, tapi kita harus senantiasa mengubah taibat kita kepada tabiat yang lebih baik.

Ketiga, gunakan prinsip ini , “bahwa bergaul, berarti berusaha membantu orang lain.” bila kita kehilangan makna ini, maka lebih baik mundur, tarik diri dari pergulan tersebut. Uzlah. Itu lebih baik, dari pada kita membuat hidup orang lain tambah susah atau terlalu banyak madharat yang kita apat. Demikian pula dalam prinsip kerja. saya tidak memaknai bekerja hanya mencari uang, tapi juga “saling membantu”. Saya membantu mereka, dan mereka membantu saya. ketika saya kehilangan makna ini, maka saya pasti akan menarik diri dari pekerjaan itu.

Keempat, Setiap orang memiliki orotiras atas dirinya sendiri, demikian pula setiap lembaga atau perusahaan. Dan yang namanya kerjasama itu adalah “wujud kesepakatan”. Bila kita bekerja pada suatu tempat, maka kita telah ada kesepakatan dengan pihak perusahaan. Karena itu, apabila terjadi hal-hal yang tidak sesuai dengan prinsp-prinsip kita, maka kita harus melihat kembali kesepkatan yang pernah kita buat, atau kita merevisi ulang kesepakatan itu. jika ada hal-hal yang di luar kesepakatan, maka apakah kita dapat toleransi atas hal itu. jika dapat, maka lanjut. jika tidak, maka hentikan kerja sama. Dan itu adalah otoritas masing-masing individu.

Kelima, atas segala peristiwa tak menyenangkan yang terjadi pada diri kita, maka jangan kita membiasakan diri mencari kesalahan pada pribadi orang lain. karean tidak ada gunanya mencari kesalahan lain, terlebih tidak seorangpun yang suka disalahkan. Ma musibatkum fabima kasabat aidikum. misbah apapun yang menimpa kita, itu karena perbuata kita sendiri. Jadi, sudah selayaknya, jika kita mendapatkan perlakuan tak menyenangkan dari orang lain, kita mengutamakan introspeksi ke dalam diri kita sendiri.

Keenam, tidak ada seorang pun yang tidak pernah disalahkan. Karena itu, apakah kita melangkah ke kiri, ke kanan, maju atau mundur, kita akan tetap dipersalahkan. jadi, jangan ragu membuat keputusan yang benar menurut keyakinan kita, mau maju atau mau mundur, itu sepenuhnya hak kita. dan biakan orang lain menyalankan keputusan kita. karena itu sudah tidak dapat dihindari lagi.

Ketujuh, pastilah selalu bahwa semua yang kita katakan, yang kita perbuat berlandas pada niat yang baik dan keyakinan yang benar. Jika kita sudah yakin bahwa niat kita baik, perbuatan kita benar, maka tidak perlu lagi risau dengan segala sifat dan sikap orang lain terhadap kita.

Sumber : Kang Asep