Jejakmu bukan jejaknya

Apa itu jejak? Apakah itu ada? Yang bagaimana? Siapa yang mengetahui jejak saya. Pertanyaan seperti itu melintasi benakku. Seakan menyentuh kesadaranku ketika aku berada di sebuah tempat. Pernah dulu aku mendengar “sebaik-baiknya manusia yang berguna bagi sesamanya” dan “Manusia mati meninggalkan jasa”. Jejak itu seperti apa aku tidak tau?

Haruskah aku, ketika berada di suatu tempat, aku harus meninggalkan jejak ataukah menghaps jejak? Jejak yang seperti apa? Jejak yang baik menurut siapa? Dan yang burukpun menurut siapa? Berbagai macam penilain orang yang melahirkan kebingungan.

Apakau jejak akan di pertanyakan? Di pertanggung jawabkan? Jejak jekak oh jejak bingung sekali aku memikirkanmu. Apasih gunanya jejak? Bagaimana cara menciptakan jejak?

Sebagian orang ada yang membahas tentang jejak para leluhur. Ada juga yang mencatat jejak kehidupan pribadinya. Ada yang mempublikasikannya ada juga yang menghapusnya dari pandangan publik.

Ah sudahlah kau jangan terbawa arus penilaian orang mengenai jejak ini ikuti saja kata hatimu. Kau mau pilih yang mana? Jejakmu yang di sukai orang lain hingga di jadikan sejarah berharga atau malah menyakiti orang lain? Yang membuatnya menghapus jejakmu dalam kehidupan dirinya atau pandangan publik?

Kalau berpikir pandangan orang sih kau akan selalu salah. Lakukan saja apa yang menurutmu baik. Menurut lingkunganmu baik dan menurut tauhidmu baik. Selama itu tidak menyalahi aturan yang ada.

Catat jejak yang bisa membuat senyum orang lain. Bukan mencatat jejak yang merugikan orang lain.

Hidupmu ada di tanganmu.
Ragamu yang mampu mencatat jejak hidupmu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *